Industri

Harga Sawit Turun, Ekonomi Masyarakat Terganggu

Jurnalsawit.com – Hingga saat ini, keberadaan berbagai perusahaan pabrik kelapa sawit (PKS) yang berdiri dan beroperasi di Kabupaten Pelalawan khususnya di Kecamatan Pelalawan yakni PKS PT Inti Indosawit Subur (IIS, red), telah membuat geliat petani sawit kian menjanjikan.

Namun demikian, keberadaan PKS tersebut dinilai masih belum membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Pasalnya, PKS ini enggan membeli tandan buah segar (TBS) kelapa sawit milik warga dengan jumlah kecil.

Sehingga hasil komoditi unggulan masyarakat khususnya Kecamatan Pelalawan ini ditampung oleh para pengepul serta pihak spekulan dengan harga sangat murah.

“Ya, harga sawit di tingkat petani saat ini hanya dihargai Rp1.300 per kilogram yang kami jual kepada para tengkulak. Artinya, harga ini jauh dari harga normalnya.

Sedangkan harga ini berbeda dengan bulan sebelumnya harganya Rp1.500 per kilogramnya. Dan bahkan informasi dari pihak tengkulak, pada pekan ini, harga TBS akan kembali mengalami penurunan dengan harga Rp1.200 per Kg.

Sementara itu, PKS di desa kami tidak mau membeli TBS kelapa sawit kami ini, sehingga mau tidak mau kami terpaksa menjualnya kepada tengkulak dengan harga murah,” terang salah satu petani kepala sawit Desa Lalang Kabung, Kecamatan Pelalawan Diki Kurniawan kepada Riau Pos, Senin (16/5) melalui selulernya.

Disampaikannya, turunnya harga sawit tentu sangat berdampak terhadap perekonomian keluarga yang kian hari kian merangkak naik dan kebutuhan semakin bertambah.

Dan tentunya, dirinya sangat cemas dan khawatir tidak mampu untuk menutupi kebutuhan hidup rumah tangganya bila harga jual sawit tetap anjlok.

“Jadi, bagaimana kita menyeimbangkan kebutuhan dan pemasukan, kebanyakan warga kami hanya mengandalkan sawit sebagai satu-satunya sumber pemasukkan ekonomi keluarga.

Dan tentunya dengan turunnya harga TBS kelapa sawit sawit ini, tidak mampu menutupi biaya kehidupan kami. Pasalnya, penghasilan yang kami terima tidak sebanding dengan biaya pengeluaran yang kami lakukan seperti pembelian pupuk jenis MPK Mutiara Rp450.000 per 50 Kg per karung.

Ditambah lagi saat ini kondisinya buah sedang trek (kelapa sawit tidak menghasilkan banyak buah, red). Artinya, sudah harga turun, hasil TBS pun tidak banyak alias trek.

Seharusnya dengan kondisi masyarakat terjepit sekarang ini, pemerintah diminta tanggap dan dapat melakukan loby-loby agar harga jual komoditi petani kembali naik.

Dengan demikian, maka idealnya, dengan harga kebutuhan yang melambung tinggi ini, maka harga sekilo buah sawit harus berada di angka Rp2.500 per Kg,’’ sebutnya. (rp)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top