Lingkungan

Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Internasional Mangrove 2017

Jakarta – Indonesia memiliki ekosistem mangrove terluas di dunia serta memiliki keanekaragaman hayati yang paling tinggi. Dengan panjang garis pantai sebesar 95,181 km2, Indonesia mempunyai luas mangrove sebesar 3.489.140,68 Ha (tahun 2015).

timthumb.phpJumlah ini setara dengan 23% ekosistem mangrove dunia yaitu dari total luas 16.530.000 Ha.. Dari luas mangrove di Indonesia, diketahui seluas 1.671.140,75 Ha dalam kondisi baik, sedangkan areal sisanya seluas 1.817.999,93 Ha sisanya dalam kondisi  rusak. Data ini dikemukakan oleh Direktur Bina Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial, Antung Deddy Radiansyah pada komunikasi publik di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta, (Selasa, 14/03/2017).

Dengan kondisi mangrove yang baik, vegetasi ini mampu menyumbang setidaknya sebesar USD 1.5 milyar dari perikanan saja untuk perekonomian nasional (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2015).

“Ini belum termasuk manfaat lain seperti kayu, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, dan perlindungan wilayah pesisir,” ungkap Antung. Kajian The Nature Conservancy (TNC) dan Wetlands International (WI) tahun 2012 mengungkap bahwa mangrove dengan ketebalan minimal 100 meter ke arah darat dapat mengurangi ketinggian gelombang antara 13% sampai 66%. Antung juga menyampaikan pencegahan deforestasi mangrove terkait dengan pengendalian perubahan iklim

“Berbagai kepentingan seperti tambak, pemukiman, perkebunan, industri dan infrastruktur pantai/pelabuhan seringkali mengorbankan keberadaan mangrove,” ujar Direktur Konservasi Tanah dan Air, Muhammad Firman.

Masalah lain yaitu pemahaman masyarakat tentang mangrove yang masih rendah dan tumpang tindih kebijakan di tingkat nasional hingga daerah. Firman menambahkan, “Kondisi ini diperburuk dengan pencemaran oleh limbah plastik, limbah rumah tangga dan tumpahan minyak”. Bencana alam menjadi faktor lain yang tidak bisa dihindari di tengah upaya meningkatkan vegetasi mangrove.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Kementerian LHK dalam pengelolaan hutan mangrove dan pantai, seperti Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) mangrove dan kerjasama dengan sektor swasta.

Berdasarkan Perka BIG No. 54 tahun 2015 tentang Wali Data Informasi Geospasial Tematik mengamanatkan Kementerian LHK sebagai wali data mangrove untuk menyusun Satu Peta Mangrove Nasional. “Hingga saat ini telah disusun satu peta mangrove Jawa pada tahun 2013, Sumatera pada tahun 2014, Sulawesi pada tahun 2015, serta Bali dan Nusa Tenggara pada tahun 2016,” terang Firman.

Selanjutnnya Firman menyampaikan, “Pada tahun 2017 akan disusun satu peta mangrove untuk wilayah Kepulauan Maluku. Kedepannya pada tahun 2018 akan disusun peta mangrove Kalimantan, dan pada tahun 2019 untuk kawasan Papua”.

“Dengan adanya One Map Mangrove ini diharapkan dapat dijadikan acuan bagi seluruh kementerian/lembaga dalam pemanfaatan ruang ekosistem mangrove secara terintegrasi dan terpadu,” pungkas Firman.

Keseriusan Indonesia dalam pengelolaan mangrove mendapat perhatian dunia internasional. “Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dan penyelenggara Konferensi Mangrove Internasional (KMI) 2017,” ujar Antung.

“Rencananya akan dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya;” ungkap Antung. Indonesia menggandeng International Timber Trade Organization (ITTO) dan International Society for Mangrove Ecosystems (ISME) untuk penyelenggaraan kali ini.

Ada sejumlah agenda yang menjadi pembahasan utama pada KMI 2017, yaitu mempromosikan pengelolaan bakau, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dan peningkatkan mata pencaharian yang berkelanjutan dari komunitas mangrove. Selanjutnya restorasi ekosistem mangrove yang terdegradasi, penguatan pemantauan good governance dan penegakan hukum, pembayaran jasa lingkungan mangrove serta penelitian dan pendidikan untuk pengembangan ekosistem mangrove berkelanjutan

Melalui Konferensi Mangrove Internasional ini Indonesia memposisikan diri di garis depan mempromosikan hubungan baru dan harmonis antara manusia dan alam khususnya dalam pelestarian ekosistem mangrove. Untuk tujuan ini, Indonesia membuka diri bekerjasama dengan semua mitra dalam pembangunan ekosistem mangrove yang berkelanjutan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top